Albert Einstein

September 15th, 2010

“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang professor dari sebuah universitas yang terkenal bertanya kepada mahasiswa-mahasiswanya seperti itu, “ apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan lantang menjawab, “ Ya Pak, Tuhan menciptakan segala yang ada.”

“Tuhan menciptakan semuanya??” Tanya professor itu kepada mahasiswanya tadi.

“Ya, semuanya” jawab mahasiswa itu.

Kemudian professor itu berkata, “Jika Tuhan menciptakan semuanya berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ‘Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?’
‘Tentu saja,’ jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ‘Profesor, apakah dingin itu ada?’
‘Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?’ Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, ‘Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebutKita menciptakan kata ‘dingin’ untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, ‘Profesor, apakah gelap itu ada?’

Profesor itu menjawab, ‘Tentu saja itu ada.’

Mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi anda salah Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.

Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.’

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, ‘Profesor, apakah kejahatan itu ada?’

Dengan bimbang professor itu menjawab, ‘Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.’

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, ‘Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, ‘kejahatan’ adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.

Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

KoMdis dan Hujan

September 15th, 2010

Di IPB, ospek yang biasanya dilakukan di universitas lain diberi nama MPKMB atau Masa Perkenalan Mahasiswa Baru. Dalam MPKMB ini ada 3 hari yang dijadikan sebagai masa perkenalan para mahasiswa yang masuk tahun ini yang dibimbing oleh angkatan sebelum mereka. Tahun ini adalah angkatan 47. Dengan tema laskar inspirasi , para anak-anak 47 di gembleng dengan seminar-seminar dan apapun itulah yang membuat mereka cinta dengan Kampus IPB tercinta ini. MPKMB dilaksanakan pada hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini yaitu pada tanggal 17 Agustus 2010. Kemudian dilanjutkan pada tanggal 24 dan 25 September 2010.

Dalam pelaksanaannya, dalam MPKMB selain adanya para penanggung jawab masing-masing kelompok yang biasanya dipanggil PJL atau penanggung jawab laskar, juga dibutuhkan pengatur jalannya semua kegiatan agar semuanya berjalan tertib dan lancar. Mereka dinamai KOMDIS !!

Komdis adalah singkatan dari Komisi Disiplin atau bisa juga diplesetkan menjadi KOMisi saDIS. Tugas mereka adalah untuk mengatur semua kegiatan MPKMB agar berjalan tertib dan aman, tapi buat anak-anak angkatan 47 Komdis layaknya dementor-dementor yang dengan senang hati menyerap semua kebahagiaan anak-anak 47. Di setiap temu laskar, Komdis selalu bergentayangan mengelilingi para anak-anak 47 dengan tampang sangar mereka. Tak pernah sekalipun tersenyum untuk para mahasiswa baru. Seakan-akan para Komdis hanya mempunyai satu ekspresi yaitu ekspresi pengen marahh !!!!. Di setiap kelompok/Laskar setidaknya ada 2 komdis yang mengawasi mereka. Mereka berjalan, berkeliling, mengecek apakah ada yang melanggar SOP atau tidak. Tak jarang mereka juga berteriak untuk memperingatkan para mahasiswa baru.

“ Siapa yang melanggar SOP !!! “

“ Dek !!! DUA BANJARRRR !!!”

Dan banyak teriakan-teriakan lain yang samar-samar dipikiran saya. Pernah suatu hari, di hari pertama temu laskar saya terlambat datang karena ada kuliah sampai jam 4. Sedangkan temu laskar dimulai jam 4 tepat. Mau tak mau saya pasti akan terlambat. Setelah kuliah saya segera ke masjid Al- Huriyah untuk salat asar sejenak, kemudian saya ke tempat temu laskar yaitu di parkiran fapet. Dengan kaki yang benar-benar pegal karena berjalan dari RKU ke fapet dengan langkah cepat saya benar-bear merasa lemas.

Dengan mata saya yang saat itu minus dan saya sedang tidak memakai kacamata saya memicing-micingkan mata untuk melihat papan nama laskar saya, yaitu laskar 5. Saya berjalan tak jelas, sementara teman-teman lain sudah dari tadi mendengarkan para PJL-PJL mereka yang mengoceh tanpa henti.

Kemudian saya putuskan untuk bertanya,

“Kak, laskar 5 dimana ya?”

Jawaban dari pertanyaan itu adalah satu tunjukan jari, tanpa kata tanpa bicara. Woww….

Kemudian saya ingat betul, ketika saya sampai di tempat dimana laskar saya berkumpul. Saya dihadang oleh kakak kecil bermuka sangar sebelum saya masuk ke barisan.

“ Kenapa telat?” masihh dengan muka sangar dan suara ketus.

Dan saya jelaskan kenapa saya telat, yaitu karena kuliah kemudian salat Ashar dulu.

“Masuk barisan, baris sesuai dengan asrama.”

“A4 sebelah mana kak?”tanyaku.

“Punya mulut kan !! tanya temenmu !!!”

Buset dahhhhh… kecil-kecil juteknya minta ampun. Kalo saya gak punya mulut mah saya gak bakalan tanya sama kakak Komdis. J

Hampir semua mahasiswa baru sepertinya tidak menyukai komdis, tak jarang juga mereka membenci para komdis bermuka jutek itu. Saya juga kadang tak suka dengan mereka.

Tapi hujan menyadarkan saya, hujan memberi tau kami. Betapa berat tugas manusia-manusai jutek itu.

Sore itu, kalo gak salah saat temu laskar kedua. Hujan turun di saat pertengahan temu laskar. Para mahasiswa baru panik, dan para komdis berkoar-koar menyuruh kami untuk tetap di barisan terlebih dahulu. Kami sebel setengah mati, kenapa mereka menahan kami dalam hujan. Tapi tak lama kemudian dengan muka sangar mereka memberi perintah pada kami untuk di mobilisasi ke asrama masing-masing. Saat itu hujan belum benar-benar melunturkan ketaksukaan saya pada mereka.

Sampai di TL ketiga, hujan turun lagi di pertengahan TL. Mungkin memang benar kalo TL tidak direstui Allah… Hehe… Kami di mobilisasi lagi, tapi kali ini ke kortan. Dalam balutannn hujan mereka dihadapkan pada tanggung jawab mereka. Para mahasiswa baru yang memang sebelumnya sudah disuruh untuk membawa payung bisa tenang karena trlindungi oleh payung. Tapi mereka para komdis… tak peduli panas, tak peduli hujan mereka tetap melakukan tanggung jawabnya. Paras-paras mereka tetap seperti biasanya tak peduli hujan mengguyur mereka, tanpa payung tanpa perlindungan apapun dari hantaman hantaman air hujan mereka tetap melakukan tugas mereka. Mereka kuat atau mereka sok kuat saya tak peduli. Tapi mereka pantas dikagumi.

Melihat mereka berlarian mengatur barisan para mahasiswa baru sontak meluruhkan kebencian saya pada mereka. Jujur, saya kagum dengan mereka, dengan tanggung jawab yang mereka emban dan mereka jalankan. Tak peduli seberapa sering mereka dikata-katai. Tak peduli semua mata memandang tak suka pada mereka, tak peduli betapa mereka dibenci. Yang namanya tanggung jawab tetap mereka jalankan. Manusia-manusia seperti itu… muka-muka seperti itu… hujan seperti itu… Semuanya menginspirasi saya untuk lebih bertanggung jawab pada diri saya sendiri, bertanggung jawab pada semua yang saya lakukan. Dan bertanggung jawab pada orang-orang disekitar saya.

Terima kasih untuk para komdis yang menyadarkan saya tentang tanggung jawab dan pengorbanan untuk menjalankan tanggung jawab.